Malang sedang gerimis petang itu. Kupacu supra-x menuju sebuah apotek.
Gigi lubangku sedang berteriak, mengetuk-ngetuk, memberi rasa sakit yang
mungkin lebih sakit dari pada sakit hati, hihihi.. Di setengah jalan pulang ke
rumah baru kusadar, kunci kontak motor sudah tak ada lagi di tempatnya. Jatuh
entah di mana. Sambil menahan sakit gigi, kuputar sepeda motor menyusuri
kembali jalan menuju apotek. Mata jelalatan mencari, kunci tak jua kutemukan.
Di jalan pulang, saat gerimis menuju hujan, menambah dingin tubuh dan
tentu saja dengan gigi yang makin ngilu, kumasih saja mencari kunci itu di
jalanan yang makin berlumpur. Mendadak seorang Pak Tua menghentikanku: “Mas,
saya numpang yah, ke Joyo Grand!”.
Kuanggukkan kepalaku dengan setengah sadar bahwa Pak tua itu searah denganku. Kesadaranku
yang lain masih disita penasaran: “di mana kunci itu?, harus kutemukan sebelum
balik ke rumah!
Tanpa mengeluh Pak tua mengikuti saja gerak motor yang kuperlambat
lantaran mata masih mencari kunci. Ketika dia bertanya ada apa, jawabanku ketus
saja: “Lagi nyari kunci kontak Pak,
jatuh tadi!.” “Masya Allah, Mas!
jatuh di mana, Mas? Ya Allah…”,
serunya prihatin. Saat kuparkir motor sejenak dan mencari, Pak Tua itu ikut
mencari tanpa kuminta. Sementara hujan bertambah deras. Pakaian kami basah
kuyup. Tapi Pak Tua itu tak sekalipun mendesakku untuk segera mengantarnya
pulang.
Hingga akhirnya saat kuhentikan lagi motor di sudut jalan lain untuk
mencari, Pak Tua pun berpamitan denganku: “Ya sudah, Mas. Mas nyari aja
pelan-pelan, saya jalan kaki saja” , sambil menepuk pundakku. Karena
kepanikkanku, kubiarkan Pak Tua berjalan kaki saja, sementara kuterus sibuk
mencari-cari kunci yang jatuh. Namun baru mengayun kaki beberapa langkah, Pak
Tua itu berbalik padaku dan mengingatkan: “Nyarinya
gak usah jauh-jauh, Mas. Lihat juga ama motornya, awas diambil orang!”
Setelah Pak Tua itu pergi barulah kutersadar: alangkah susahnya
menangkap dan mensyukuri kebaikan, saat mata
sedang hanya terarah pada diri sendiri. Kepanikan dan segala urusanku saat itu
bahkan menghalangiku berbuat sesuatu untuk orang lain. Menyisihkan urusan
sendiri untuk urusan orang lain, sungguh tak selalu mudah, apalagi saat diri
sendiri terdesak!
2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar