Label

Kamis, 22 Agustus 2013

Pak Tua di Bawah Gerimis


Malang sedang gerimis petang itu. Kupacu supra-x menuju sebuah apotek. Gigi lubangku sedang berteriak, mengetuk-ngetuk, memberi rasa sakit yang mungkin lebih sakit dari pada sakit hati, hihihi.. Di setengah jalan pulang ke rumah baru kusadar, kunci kontak motor sudah tak ada lagi di tempatnya. Jatuh entah di mana. Sambil menahan sakit gigi, kuputar sepeda motor menyusuri kembali jalan menuju apotek. Mata jelalatan mencari, kunci tak jua kutemukan.
           
Di jalan pulang, saat gerimis menuju hujan, menambah dingin tubuh dan tentu saja dengan gigi yang makin ngilu, kumasih saja mencari kunci itu di jalanan yang makin berlumpur. Mendadak seorang Pak Tua menghentikanku: “Mas, saya numpang yah, ke Joyo Grand!”. Kuanggukkan kepalaku dengan setengah sadar bahwa Pak tua itu searah denganku. Kesadaranku yang lain masih disita penasaran: “di mana kunci itu?, harus kutemukan sebelum balik ke rumah!
           
Tanpa mengeluh Pak tua mengikuti saja gerak motor yang kuperlambat lantaran mata masih mencari kunci. Ketika dia bertanya ada apa, jawabanku ketus saja: “Lagi nyari kunci kontak Pak, jatuh tadi!.” “Masya Allah, Mas! jatuh di mana, Mas? Ya Allah…”, serunya prihatin. Saat kuparkir motor sejenak dan mencari, Pak Tua itu ikut mencari tanpa kuminta. Sementara hujan bertambah deras. Pakaian kami basah kuyup. Tapi Pak Tua itu tak sekalipun mendesakku untuk segera mengantarnya pulang.
           
Hingga akhirnya saat kuhentikan lagi motor di sudut jalan lain untuk mencari, Pak Tua pun berpamitan denganku: “Ya sudah, Mas. Mas nyari aja pelan-pelan, saya jalan kaki saja” , sambil menepuk pundakku. Karena kepanikkanku, kubiarkan Pak Tua berjalan kaki saja, sementara kuterus sibuk mencari-cari kunci yang jatuh. Namun baru mengayun kaki beberapa langkah, Pak Tua itu berbalik padaku dan mengingatkan: “Nyarinya gak usah jauh-jauh, Mas. Lihat juga ama motornya, awas diambil orang!”

Setelah Pak Tua itu pergi barulah kutersadar: alangkah susahnya menangkap dan mensyukuri kebaikan, saat mata sedang hanya terarah pada diri sendiri. Kepanikan dan segala urusanku saat itu bahkan menghalangiku berbuat sesuatu untuk orang lain. Menyisihkan urusan sendiri untuk urusan orang lain, sungguh tak selalu mudah, apalagi saat diri sendiri terdesak!


2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar