baju kita ‘kan mengabu
jatuh utuh menyatu debu
karna jiwa berbalut rapuh
maut berdiri seakrab nafas
menanti datang bulan yang pas
mencabik habis baju yang batas
ah, demikian nasib baju bukan?
tak usah bersusah meniduri sedih
tak usah berpayah menyetubuhi perih
apalagi mengutuki baju tanpa kasihan
bukankah mentari lahir di pagi hari,
lantas mundur teratur dalam segera
bukankah insan hadir dalam hari,
terhimpit antara sempitnya sementara
selama jiwa belum diusir ke tepi
biarkan baju mengulur jemari
menggaris kaki yang berdiri
pada raut hari-hari
2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar