Hari minggu pagi. Saya ajak sepasang kaki saya berpelesir ke halaman atas biara. Di halaman atas ada sebuah rumah
kecil tak berpenghuni. Posisinya strategis, berada di ketinggian. Lebih
menyerupai sebuah bukit. Dari depan rumah itu, saya dapat melihat luas kota
Malang. Bangunan-bangunan yang rapat tersusun. Dari tempat itu pula, saya dapat
mendengarkan dari kejauhan suara bising kendaraan. Kadang keras, kadang sayup di
telinga.
Seketika
saya sadar bahwa dari tempat itulah, sebuah bukit kecil, saya dapat melihat
lebih banyak hal di kejauhan sana, mendengarkan lebih banyak suara. Pemandangan
dan pendengaran yang tak akan saya peroleh kalau hanya berada di dalam kamar.
Ada yang berkata bahwa kita akan
sanggup melihat diri lebih jelas, mendengarkan suara hati dengan lebih jernih,
bila kita menepi, mengambil jarak dari kehidupan yang rutin dan masuk dalam
keheningan. Sendirian saja, kalaupun berduaan itu berarti antara kita dan
pengalaman-pengalaman kita saja. Seperti berdiri di hadapan cermin, segala yang
kita lihat adalah diri sendiri.
Keheningan itu seperti berada di
atas bukit. Seorang diri. Dan justru banyak orang takut berada seorang diri,
bukan? Karena barangkali tidak semua orang berani melihat dirinya yang
sebenarnya, mendengarkan suara hatinya yang jujur. Padahal untuk maju dengan
lebih pasti orang perlu kembali melihat ke belakang dari arah mana langkah itu
telah dimulai dan bagaimana langkah itu harus dilanjutkan.
Di hari minggu itu tak banyak hal
yang bisa saya lihat. Sebaliknya ada sekian banyak pertanyaan yang tak tuntas
terjawab. Tetapi berada seorang diri, melihat diri dan kehidupan sendiri membuat
saya tahu bagaimana saya harus memulai atau melanjutkan kembali langkah-langkah
kehidupan.
2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar