Label

Kamis, 22 Agustus 2013

Dari Atas Bukit

 
Hari minggu pagi. Saya ajak sepasang kaki saya berpelesir ke halaman atas biara. Di halaman atas ada sebuah rumah kecil tak berpenghuni. Posisinya strategis, berada di ketinggian. Lebih menyerupai sebuah bukit. Dari depan rumah itu, saya dapat melihat luas kota Malang. Bangunan-bangunan yang rapat tersusun. Dari tempat itu pula, saya dapat mendengarkan dari kejauhan suara bising kendaraan. Kadang keras, kadang sayup di telinga.

Seketika saya sadar bahwa dari tempat itulah, sebuah bukit kecil, saya dapat melihat lebih banyak hal di kejauhan sana, mendengarkan lebih banyak suara. Pemandangan dan pendengaran yang tak akan saya peroleh kalau hanya berada di dalam kamar.

Ada yang berkata bahwa kita akan sanggup melihat diri lebih jelas, mendengarkan suara hati dengan lebih jernih, bila kita menepi, mengambil jarak dari kehidupan yang rutin dan masuk dalam keheningan. Sendirian saja, kalaupun berduaan itu berarti antara kita dan pengalaman-pengalaman kita saja. Seperti berdiri di hadapan cermin, segala yang kita lihat adalah diri sendiri.

 Keheningan itu seperti berada di atas bukit. Seorang diri. Dan justru banyak orang takut berada seorang diri, bukan? Karena barangkali tidak semua orang berani melihat dirinya yang sebenarnya, mendengarkan suara hatinya yang jujur. Padahal untuk maju dengan lebih pasti orang perlu kembali melihat ke belakang dari arah mana langkah itu telah dimulai dan bagaimana langkah itu harus dilanjutkan.


Di hari minggu itu tak banyak hal yang bisa saya lihat. Sebaliknya ada sekian banyak pertanyaan yang tak tuntas terjawab. Tetapi berada seorang diri, melihat diri dan kehidupan sendiri membuat saya tahu bagaimana saya harus memulai atau melanjutkan kembali langkah-langkah kehidupan.

2013 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar