/
Januari datang meneriakkan
Angin. Lalu kita berteriak diusik liar geliatnya.
Lembar-lembar percaya boleh tercecer, gugur tapi janganlah
terkubur subur ragu yang laju membunuh maju.
Kata hidup, tingkah Angin di
seberang ingin hati. Saat ini sekawan juang terbangkan kaki.
Saat lain sepanggung tarung padamkan api. Ah, kita sebutir
pasir digilir entah belaian, entah hempasan.
Bukankah tiap hari berlabuh
kita berkeringat, betah berlari tiap jatuh
beradu. Sampai gelap diam-diam menginterupsi, kita balik
berteriak pada angin:
Ada
pada kami asa yang masih, tiada pada hati kaki yang letih.
Di ranjang hening kita
setubuhi tawa. Dan kau tahu, Anginlah tawa itu !
//
Sekalipun wajah nasib
bersalin muka, kita adalah terlalu kalau melupakan ini:
tidur di jemuran bersama angin, ditiduri harum atau
keringat harapan.
Di tubuh tali-temali yang
merentang, kita gantungkan impian yang belum
tuntas terumus pada malam, lunas terhunus pada hari.
Pada kita asa masih terlalu
basah. Entah kapan mengering, keringkanlah dulu
resah, karena mentari belum tentu lahir tiap pagi.
Sekalipun tak lagi setubuh
di satu jemuran, kita masih seutas tali di satu tujuan.
Merentanglah selantang perjuangan, ditiduri harum atau
keringat harapan
karena di ujung kita, Angin
lestari menari.
…
dan ini bukanlah perpisahan, selama kau dan kami masih kita dan
karena kita tiada pernah berujung, tiap hari berlabuh, datanglah
pada jemuran ini, bermain bersama Angin yang selalu…
2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar