Label

Rabu, 21 Agustus 2013

Angin di Ujung Kita


/
Januari datang meneriakkan Angin. Lalu kita berteriak diusik liar geliatnya. Lembar-lembar percaya boleh tercecer, gugur tapi janganlah terkubur subur ragu yang laju membunuh maju.

Kata hidup, tingkah Angin di seberang ingin hati. Saat ini sekawan juang terbangkan kaki. Saat lain sepanggung tarung padamkan api. Ah, kita sebutir pasir digilir entah belaian, entah hempasan.

Bukankah tiap hari berlabuh kita berkeringat, betah berlari tiap jatuh beradu. Sampai gelap diam-diam menginterupsi, kita balik berteriak pada angin:
Ada pada kami asa yang masih, tiada pada hati kaki yang letih.

Di ranjang hening kita setubuhi tawa. Dan kau tahu, Anginlah tawa itu !

//
Sekalipun wajah nasib bersalin muka, kita adalah terlalu kalau melupakan ini: tidur di jemuran bersama angin, ditiduri harum atau keringat harapan.

Di tubuh tali-temali yang merentang, kita gantungkan impian yang belum tuntas terumus pada malam, lunas terhunus pada hari.

Pada kita asa masih terlalu basah. Entah kapan mengering, keringkanlah dulu resah, karena mentari belum tentu lahir tiap pagi.

Sekalipun tak lagi setubuh di satu jemuran, kita masih seutas tali di satu tujuan. Merentanglah selantang perjuangan, ditiduri harum atau keringat harapan
karena di ujung kita, Angin lestari menari.

… dan ini bukanlah perpisahan, selama kau dan kami masih kita dan karena kita tiada pernah berujung, tiap hari berlabuh, datanglah pada jemuran ini, bermain bersama Angin yang selalu…

2012



Tidak ada komentar:

Posting Komentar