Label

Rabu, 21 Agustus 2013

Dik


Dik, ke mana t’lah kau larikan wajahmu?
Percakapan mengering. Suara bernafas sayup. Kata-kata mengeriput kusut ditikam kebekuan yang menjelma dinding antara duniamu dan duniaku. Kita yang tak lagi sekisah, ditelan senyap berangsur subur.

Dik, masih mahirkah kita menanak puisi? Seperti dulu? Sementara makna kini beranak dari lain rahim. Masih fasihkah kita merangkai lagu? Sementara nada-nada terbang tanpa sayap sepasang.

Mungkin ini saatnya kita bunuh impian tentang ranjang pertemuan, setelah wajahmu kehilangan melodi. Senyummu berhenti mentari. Dingin. Amat dingin. Hingga jari-jariku lekas gugur sebelum terulur meraihmu embali. Patah dilahap kebisuan. Walau kupercaya, di sudut bisumu, masih kau bisikkan namaku dengan memeluk ragu.


Dik, haruskah kau larikan wajahmu?

Sebelum wajahku benar-benar kau bunuh, ingin kuajak wajahmu berbaring di mataku. Kujanjikan semenit, hanya semenit! ‘Kan kuajak kau bersua rahasia yang hingga lahir bait-bait ini, terus mendegupkan namamu di jantungku.

Setelah itu, larikan wajahmu ke mana pun kau inginkan. Pergi dan tak ‘kan kutanya lagi. Pada kita tertitip luka. Luka sejarah. Sejarah kasih.
Karena luka, kita masih saling mengenang, bukan?

2012





Tidak ada komentar:

Posting Komentar