Tiap Petani mesti merendam
tubuhnya ke dalam lumpur, demi datangnya panenan. Pedagang berkeliling ke sana
kemari, demi lakunya jualan. Pemulung menyerahkan diri menyetubuhi bau-bau
sampah, demi mendapat makan sehari. Penganggur pontang-panting masuk keluar
instansi, demi sebuah pekerjaan. Para Ibu bersusah-payah mengandung janin
9 bulan, demi lahir pribadi yang sehat-selamat. Bahkan burung-burung sekalipun,
tiada lelah mengepak sayap mencari pohon berteduh.
Demikianlah laku kehidupan. Pilihan
hidup macam manapun niscaya mengharuskan perjuangan: ada derita dan keringat,
peluh dan lelah. Dan persis pada sisi inilah, insan sadar akan batas
kemampuannya. Pengalaman susah duka, keluh kesah, letih perih, jatuh rubuh,
gagal terpental, tangis meringis sakit, hingga rangkaian kehilangan, semuanya
membuka sadar manusia bahwa hidup tak sepenuhnya berada dalam kendali diri,
banyak hal terjadi di luar kehendak sendiri dan karena itu, manusia tiada
sanggup berjuang seorang diri.
Tak sedikit orang mencari Tuhan, mendaraskan doa dan permohonan,
menciptakan berderet-deret ‘mau’: mau sukses, mau kaya, mau punya rumah bagus,
mau punya jodoh terbaik, mau gaji besar, mau kerjaan yang lebih mapan, mau
pangkat yang lebih tinggi, mau ke luar negeri, mau ini dan itu… Sampai di sini,
baiklah insan bertanya: Sebenarnya, siapa yang Tuhan? Bukankah dengan deretan
‘mau’ itu, manusia menjadikan dirinya ‘tuan’ dan Tuhan hanyalah ‘hamba-pesuruh’
yang dipaksa memenuhi rupa-rupa kepentingan insan? Pada sisi sembunyiNya, Tuhan
barangkali mengharap insan sempat mendengar tanya sederhanaNya ini: “… lalu apa
yang sudah kau buat untuk Aku?”
Masyarakat modern menjelma sebagai
masyarakat instan, yang selalu ingin mendapatkan apa yang diinginkan dengan
cepat, enak dan murah. Jargon mereka: “Kalau bisa mudah, kenapa harus cari yang
susah!” Proses makin kurang mendapat tempat, jatuh sebisa mungkin dihindari,
tangan tak harus meraba tanah, lidah tak harus mengecap pahit, badan tak mesti
bermandi peluh, pendakian tak harus dilalui untuk berada di puncak.
Tanpa sadar, kultur instan seperti ini
memengaruhi gambaran insan tentang Tuhannya. Kalau bisa, Tuhan jadilah
‘swalayan’, menyediakan semua yang diinginkan, tinggal saja memilih dan
mengambil sesuai selera. Kalau bisa, Tuhan jadilah ‘google’, mesin pencari dan
penemu apa saja yang dibutuhkan, dalam waktu singkat, dengan harga yang murah.
Kalau bisa, Tuhan jadilah ‘putaw’, sanggup melarikan manusia dari rasa sakit
dan beban-beban yang memberatkan. Kalau bisa, Tuhan punya ‘kantong ajaib’ Dora
Emon, penyedia berbagai perangkat yang memudahkan segala sesuatu. Kalau bisa,
Tuhan begini dan begitu…
Barangkali begitulah cara Tuhan
diperlakukan. Tuhan ada sejauh insan memerlukan-membutuhkan. Tuhan ada sejauh
insan bermasalah-berkesulitan. Tuhan ada sejauh mau-ingin manusia. Tuhan ada
sejauh manusia menghendakinya ada. Tuhan benar-benar menjadi orang pinggir,
karena insan menaruhNya pada margin bingkai kehidupannya. Tuhan benar-benar
dipinggirkan, sedemikian marginalnya karena Tuhan baru di tarik ke tengah,
hanya saat manusia didesak susah-derita. Tuhan benar-benar ‘orang luar’,
tersudutkan ke bagian tepi, tak harus selalu dikenal dan diperhitungkan.
NamaNya baru riuh-ramai disebut pada musim-musim tertentu saja.
Ah, betapa kondisionalnya cinta
insan pada TuhanNya. Padahal bak mentari yang tiada henti menyinari, Tuhanpun
tiada pernah menagih-menuntut bayar atas serpih-serpih kebaikan yang gratis Ia
bagikan setiap hari. Dalam sembunyiNya, Ia hanya sabar dalam harap, kalau insan
tergugah gugat sederhanaNya ini: “Sempatkah kau mengingatKu, saat kau tertawa
berderai-derai mengecap suka dan bahagia?” ***
itulah manusia ter.... yg tanpa sadar selalu membutuhkan Tuhan pada saat susah atau ingin mendapat sesuatu, tetapi setelah mendapatkan apa yg diinginkan (senang2).. Tuhan di nomor duakan...
BalasHapus