Hati tak melulu emosional
tapi juga tak selalu memusuhi logika. Hati bergerak mengatasi keduanya. Ia
rajin menyindir kedangkalan emosi, menghujat kekeringan logika. Keliarannya tak
mampu dicegat aturan, tak tuntas ditangkap akal. Bahkan Blaise Pascal pun
menyerang lebih radikal bahwa hati punya logikanya sendiri, alasan-alasannya
tak sanggup dipahami rasionalitas insani. Tak dipahami tak sama artinya dengan
irasional. Ini perkara keterbatasan. Rasio juga berbatas dan kebenaran jauh
lebih luas darinya.
Memakai hati tak hanya
membuat anda berbeda, tapi bahkan gila. Kegilaan yang hampir tak punya tempat
dalam ruang birokrasi. Gila karena anda berdagang kejujuran saat dunia ngidam manipulasi, karena menanam
pengorbanan saat penguasa mengintimi egoisme, karena menyatakan cinta saat
publik memuja kenikmatan. Semakin gila karena saat orang-orang berteriak:
cukup! anda memilih bergerak ke ‘lebih’, saat risiko disetubuhi sementara
keuntungan dikebiri. Tak perlu heran karena ketidakpopulerannya, hati lebih
sering sendirian. Ketika
anda berdamai dengan hati, kesendirian jadi rumah yang jarang dikunjungi orang.
Sejarah keadaban manusia
adalah sejarah hati. Kepala bukan segala-galanya. Segala hal mengenai hati
selalu berupa kebaikan yang anti-pamrih. Perjalanan hidup orang-orang seperti
Ibu Teresa dari Calcutta atau Priskilla
Smith Jully, tuna netra dari Semarang dan yang lainnya tak lain mengatakan
tentang satu hal ini: Dengarkan dan Ikuti Suluh Hatimu!! Serupa awan yang
berserah gerak ke mana angin ‘kan meniup. Tak perlu kuatir karena tujuan hati
tak pernah lain selain kebaikan.
Dan sepertinya para pemimpin yang tak memakai hati di Negeri ini hanya
kuatir kalau mereka disebut orang gila. Mereka barangkali jadi korban-korban pandangan
bahwa kelaziman sama saja dengan kebenaran.
Lalu kita? sebaiknya disebut gila saja
daripada menunda-nunda belas kasih, bukan? (Mrk. 6:34) ***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar