“Percayalah dengan tidak meminta tanda!”, demikian hardik Yesus suatu saat, terhadap gugatan kalangan Farisi dan ahli Kitab Suci.
Iman memang kerap tak mudah mengungsi
dari kerinduan akan tanda, kebutuhan akan bukti. Itu karena isi iman bukanlah
sesuatu yang insani, sensible,
berdaging ataupun eksak melainkan yang ilahi. Setiap yang ilahi selalu saja
transendental, melampaui ketuntasan akal mengurai, keluasan hati mencari. Maka
tepat kata Goenawan Mohamad: “Tatkala iman bersentuhan dengan yang kudus,
persentuhan itu bukan sebuah jabat tangan”, karena memang ada selisih yang tak
selesai teratasi antara yang ilahi dan yang insani. Ketika manusia mendesak
tanda atau menuntut mukjizat, itulah ekspresi konkret kegelisahan manusiawi
akan selisih yang tak pernah teratasi itu. Padahal tujuan beriman barangkali
bukan untuk menegasi atau meniadakan selisih, melainkan untuk memperkecilnya
sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah sambil berdamai dengan kenyataan
bahwa kita pun tak pernah tahu entah kapan selisih itu benar-benar selesai.
Hardikan Sang Guru dari Nazaret
implisit menawarkan bahwa beriman tak harus dengan –atau karena- ketersediaan tanda.
Berbeda dengan konstruksi gedung, konstruksi iman justru sebagian besar berlandaskan
pada kerapuhan insani dalam menyingkap, keterbatasan visi dalam memahami keluasan
Yang Ilahi. Tapi bahwa kita percaya kepada Yang Ilahi itulah ‘tanda’
sesungguhnya, itulah mukjizat terdekat yang sudah dialami, tapi kerap tak jua
kita akui bukan?
Seberapa hebatpun manusia melacak
tanda-tanda, iman tetap saja menghamparkan kegelapan. Persis di sinilah iman berbeda
dengan kalkulasi matematis. 8x3 tak pernah sampai 24. Ada spasi yang kita sebut
kegelapan atau ketidaktuntasan. Karena itu beriman akhirnya menyangkut
kesediaan memercayai dua kenyataan sekaligus, apa yang benderang dan apa yang
(masih) gelap, apa yang jelas dan apa yang (masih) suram, apa yang sudah terlihat
dan apa yang masih harus dicari.
Salah satu bait sajak Lagu Buat Esok berikut mungkin bisa semakin padat berbicara:
Percaya
tak dilahirkan dari rahim kepastian
ia
semata buah kandungan keyakinan
bahwa pada batas tarikan
nafas ciptaan
lestari
pasti hembusan nafas Pencipta
…………………………………………………………
Iman tanpa tanda melempar kita ke pintu-pintu rahasia, kadang terbuka,
kerap tertutup. Sudah saatnya iman berdamai dengan pertanyaan dan bukan
finalitas, pengertian bukan paksaan, proses bukan hasil. Bahkan tulisan inipun
masih berupa koma, bukan titik! ***

setuju dah ter.... :)
BalasHapus