Label

Jumat, 28 September 2012

Emang Harus Dengan TANDA?


Percayalah dengan tidak meminta tanda!”, demikian hardik Yesus suatu saat, terhadap gugatan kalangan Farisi dan ahli Kitab Suci.

Iman memang kerap tak mudah mengungsi dari kerinduan akan tanda, kebutuhan akan bukti. Itu karena isi iman bukanlah sesuatu yang insani, sensible, berdaging ataupun eksak melainkan yang ilahi. Setiap yang ilahi selalu saja transendental, melampaui ketuntasan akal mengurai, keluasan hati mencari. Maka tepat kata Goenawan Mohamad: “Tatkala iman bersentuhan dengan yang kudus, persentuhan itu bukan sebuah jabat tangan”, karena memang ada selisih yang tak selesai teratasi antara yang ilahi dan yang insani. Ketika manusia mendesak tanda atau menuntut mukjizat, itulah ekspresi konkret kegelisahan manusiawi akan selisih yang tak pernah teratasi itu. Padahal tujuan beriman barangkali bukan untuk menegasi atau meniadakan selisih, melainkan untuk memperkecilnya sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah sambil berdamai dengan kenyataan bahwa kita pun tak pernah tahu entah kapan selisih itu benar-benar selesai.   

Hardikan Sang Guru dari Nazaret implisit menawarkan bahwa beriman tak harus dengan –atau karena- ketersediaan tanda. Berbeda dengan konstruksi gedung, konstruksi iman justru sebagian besar berlandaskan pada kerapuhan insani dalam menyingkap, keterbatasan visi dalam memahami keluasan Yang Ilahi. Tapi bahwa kita percaya kepada Yang Ilahi itulah ‘tanda’ sesungguhnya, itulah mukjizat terdekat yang sudah dialami, tapi kerap tak jua kita akui bukan?  

Seberapa hebatpun manusia melacak tanda-tanda, iman tetap saja menghamparkan kegelapan. Persis di sinilah iman berbeda dengan kalkulasi matematis. 8x3 tak pernah sampai 24. Ada spasi yang kita sebut kegelapan atau ketidaktuntasan. Karena itu beriman akhirnya menyangkut kesediaan memercayai dua kenyataan sekaligus, apa yang benderang dan apa yang (masih) gelap, apa yang jelas dan apa yang (masih) suram, apa yang sudah terlihat dan apa yang masih harus dicari.

Salah satu bait sajak Lagu Buat Esok berikut mungkin bisa semakin padat berbicara:

Percaya tak dilahirkan dari rahim kepastian
ia semata buah kandungan keyakinan
bahwa pada batas tarikan nafas ciptaan
lestari pasti hembusan nafas Pencipta
…………………………………………………………

Iman tanpa tanda melempar kita ke pintu-pintu rahasia, kadang terbuka, kerap tertutup. Sudah saatnya iman berdamai dengan pertanyaan dan bukan finalitas, pengertian bukan paksaan, proses bukan hasil. Bahkan tulisan inipun masih berupa koma, bukan titik! ***




1 komentar: